Denting waktu takkan berhenti
hingga sang ilham menghentikan fajar
Rembulan bosan tuk tersenyum
Dan desir angin tak sempat mengirimkan rindunya
Menapaktilasi kolong langit yang sama
Menjunjung harapan sama dengan pahitnya madu
Mengukir kisah semu yang tak sempat dibaca
Menyusun debu yang tak sadar ditinggalkan
Ingin tetap berada dalam satu naungan
Tak terlihat tangan tuhan mengiyakan
Berjalan di dalam alur yang sama
Tak terdengar sapamu barang sekilas
Laksana akar berdiri tegap
Nan dalam dan kuat diterjang badai
Semakin kuat rasa yang rab ciptakan
Bertumpah ruah cinta dalam hati
Menari bersama pandangannya
Jatuh bersama degupan jantungnya
kelu mendengar senandungnya
Diam mempertahankan kasih
Yang taktahu kapan enyah
Sesuatu menggenang di pelupuk Mata
Jatuh setetes demi setetes
Terlihat air mata membasahi pipi
Hingga tak terasa luka yang menggores jiwa
Tak ku temukan alasan mencintaimu
Cinta tak perlu alasan untuk tetap hidup
Tak membutuhkan balasan
Atas rasa yang tak pernah diungkapkan
cinta tak mengenal pamrih
Tetaplah berdiri disana
Hingga ku temukan alasan tuk berhenti mendayung
Sampai ulat tak mampu menjelma kupu-kupu
Mentari lupa kapan harus pulang
Aku akan menggapaimu
Ketika ku dapati salam rindu mu
Hingga tuhan memberitahu
Bahwa tulang rusuk ku tak tertukar